Welcome To My Blog

Minggu, 31 Januari 2016

Komunikasi Manajemen

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Selain Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, komunikasi dalam suatu organisasi juga merupakan hal utama yang tidak kalah pentingnya dalam mencapai tujuan organisasi. Hubungan komunikasi yang baik antara atasan dengan bawahan, bawahan dengan atasan, dan antara bawahan dengan bawahan dalam suatu organisasi sangat berpengaruh besar dalam menjembatani terciptanya peningkatan produktivitas kerja karyawan di dalam organisasi tersebut.
Adanya komunikasi dalam suatu organisasi akan membentuk suatu iklim komunikasi. Iklim komunikasi organisasi ada yang bersifat positif dan negatif. Iklim komunikasi organisasi yang bersifat positif dapat mendorong produktivitas kerja karyawan dalam suatu organisasi, sehingga lebih mempermudah tercapainya tujuan organisasi. Sebaliknya iklim komunikasi oragnisasi yang negatif, dapat menghambat produktivitas tinggi karyawan dalam organisasi yang mengakibatkan organisasi berjalan menuju keujung tanduk kehancurannya.

Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Iklim Komunikasi Organisasi?
2.      Apa saja yang mempengaruhi dalam Iklim Komunikasi Organisasi?
3.      Apa hambatan yang dialami dalam Iklim Komunikasi Organisasi?
Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Iklim Komunikasi Organisasi.
2.      Untuk mengetahui hal apa saja yang dapat mempengaruhi Iklim Komunikasi Organisasi.
3.      Untuk mengetahui hambatan apa saja dalam Iklim komunikasi Organisasi.







BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Iklim komunikasi Organisasi
Menurut Tagiuri, Iklim Komunikasi Organisasi adalah kualitas yang relatif abadi dari lingkungan internal organisasi yang dialami oleh anggota-anggotanya, mempengaruhi tingkah laku mereka serta dapat diuraikan dalam istilah nilai-nilai suatu set karakteristik tertentu dari lingkungan. (Soemirat,Ardianto, Suminar, 1999).
Hillreiger dan Slocum mengatakan Iklim Komunikasi Organisasi adalah suatu set atribut organisasi, yang menyebabkan bagaimana berjalannya subsistem organisasi terhadap anggota dan lingkungannya. (Soemirat, Ardianto, Suminar).
Redding mengatakan iklim komunikasi organisasi merupakan fungsi kegiatan yang terdapat dalam organisasi untuk menunjukkan kepada anggota organisasi bahwa organisasi tersebut mempercayai mereka dan memberi mereka kebebasan dalam mengambil resiko; mendorong mereka dan memberi mereka tanggung jawab dalam mengerjakan tugas-tugas mereka dan menyediakan informasi yang terbuka dan cukup tentang organisasi; mendengarkan dengan penuh perhatian serta memperoleh informasi yang dapat dipercayai dan terus terang dari anggota organisasi; secara aktif memberi penyuluhan kepada pra anggota organisasi sehingga mereka dapat melihat bahwa keterlibatan mereka penting bagi keputusan-keputusan dalam organisasi; dan menaruh perhatian pada pekerjaan yang bermutu tinggi dan memberi tantangan. (Pace dan Faules, 2002).



B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Iklim Organisasi
Menurut Higgins (1994:477-478) ada empat prinsip faktor-faktor yang mempengaruhi iklim, yaitu
1. Manajer/pimpinan
Pada dasarnya setiap tindakan yang diambil oleh pimpinan atau manajer mempengaruhi iklim dalam beberapa hal, seperti aturan-aturan, kebijakan-kebijakan, dan prosedur-prosedur organisasi terutama masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah personalia, distribusi imbalan, gaya komunikasi, cara-cara yang digunakan untuk memotivasi, teknik-teknik dan tindakan pendisiplinan, interaksi antara manajemen dan kelompok, interaksi antar kelompok, perhatian pada permasalahan yang dimiliki karyawan dari waktu ke waktu, serta kebutuhan akan kepuasan dan kesejahteraan karyawan.
2. Tingkah laku karyawan
Tingkah laku karyawan mempengaruhi iklim melalui kepribadian mereka, terutama kebutuhan mereka dan tindakan-tindakan yang mereka lakukan untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Komunikasikaryawan memainkan bagian penting dalam membentuk iklim. Cara seseorang berkomunikasi menentukan tingkat sukses atau gagalnya hubungan antar manusia. Berdasarkan gaya normal seseorang dalam hidup atau mengatur sesuatu, dapat menambahnya menjadi iklim yang positif atau dapat juga menguranginya menjadi negatif.
3. Tingkah laku kelompok kerja
Terdapat kebutuhan tertentu pada kebanyakan orang dalam hal hubungan persahabatan, suatu kebutuhan yang seringkali dipuaskan oleh kelompok dalam organisasi. Kelompok-kelompok berkembang dalam organisasi dengan dua cara, yaitu secara formal, utamanya pada kelompok kerja; dan informal, sebagai kelompok persahabatan atau kesamaan minat.
4. Faktor eksternal organisasi
Sejumlah faktor eksternal organisasi mempengaruhi iklim pada organisasi tersebut. Keadaan ekonomi adalah faktor utama yang mempengaruhi iklim. Contohnya dalam perekonomian dengan inflasi yang tinggi, organisasi berada dalam tekanan untuk memberikan peningkatan keuntungan sekurang-kurangnya sama dengan tingkat inflasi. Seandainya pemerintah telah menetapkan aturan tentang pemberian upah dan harga yang dapat membatasi peningkatan keuntungan, karyawan mungkin menjadi tidak senang dan bisa keluar untuk mendapatkan pekerjaan pada perusahaan lain. Di lain pihak, ledakan ekonomi dapat mendorong penjualan dan memungkinkan setiap orang mendapatkan pekerjaan dan peningkatan keuntungan yang besar, sehingga hasilnya iklim menjadi lebih positif.


Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi iklim komunikasi organisasi menurut Pace dan Faules dalam bukunya Komunikasi Organisasi, Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan yakni:
1. Kepercayaan
Personel di semua tingkat harus berusaha keras untuk mengembangkan dan mempertahankan hubungan yang di dalamnya terdapat kepercayaan, keersepsi yakinan dan kredibilitas yang didukung oleh pernyataan dan tindakan. Para pemimpin hendaklah berusaha membentuk kepercayaan di antara pengirim dan penerima pesan. Kepercayaan ini akan mengarahkan kepada komunikasi yang terbuka yang akan mempermudah adanya persetujuan yang diperlukan antara bawahan dan atasan. (Arni) Journal “Acta Diurna”.Vol.II/No.2/2013
2. Pembuatan keputusan bersama
Para karyawan di semua tingkatan dalam organisasi harus diajak berkomunikasi dan berkonsultasi mengenai semua masalah dalam semua wilayah kebijakan organisasi, yang relevan dengan kedudukan mereka. Para pegawai di semua tingkat harus diberi kesempatan berkomunikasi dan berkonsultasi dengan manajemen di atas mereka agar berperan serta dalam proses pembuatan keputusan dan penentuan tujuan.
Tetapi umumnya pimpinan mau memberikan informasi ke bawah bila merasa bahwa pesan itu penting bagi penyelesaian tugas. Tetapi apabila suatu pesan tidak relevan dengan tugas, pesan itu tetap dipegangnya. (Arni,)
3. Kejujuran
Suasana umum yang diliputi kejujuran dan keterusterangan harus mewarnai hubungan-hubungan dalam organisasi, dan para pegawai mampu mengatakan ”apa yang ada dalam pikiran mereka“ tanpa mengindahkan apakah mereka berbicara kepada teman sejawat, bawahan, atau atasan.
4. Keterbukaan terhadap komunikasi ke bawah
Komunikasi ke bawah menunjukan arus pesan yang mengalir dari para atasan atau para pemimpin kepada bawahannya. Menurut Lewis(1987) komunikasi ke bawah adalah untuk menyampaikan tujuan, untuk merubah sikap, membentuk pendapat, mengurangi ketakutan dan kecurigaan yang timbul karena salah informasi, mencegah kesalahpahaman karena kurang informasi dan mempersiapkan anggota organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.(Arni,) Kecuali untuk keperluan informasi rahasia, anggota organisasi harus relatif mudah memperoleh informasi yang berhubungan langsung dengan tugas mereka saat itu, yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengkoordinasikan pekerjaan mereka dengan orang-orang atau bagian-bagian lainnya, dan yang berhubungan luas dengan perusahaan,organisasinya, para pemimpin dan rencana-rencana.


5. Mendengarkan dalam komunikasi ke atas
Yang dimaksud dengan komunikasi ke atas adalah pesan yang mengalir dari bawahan kepada atasan atau dari tingkat yang lebih rendah kepeda tingkat yang lebih tinggi. Tujuan dari komunikasi ini adalah untuk memberikan balikan, memberikan saran dan mengajukan pertanyaan. Komunikasi ini mempunyai efek pada penyempurnaan moral dan sikap.
6. Perhatian pada tujuan-tujuan berkinerja tinggi
Personel di semua tingkat dalam organisasi harus menunjukkan suatu komitmen terhadap tujuan-tujuan berkinerja tinggi-produktivitas tinggi, kualitas tinggi, biaya rendah-demikian pula menunjukkan perhatian besar pada anggota organisasi lainnya. Jadi secara singkat, yang termasuk dalam dimensi iklim komunikasi organisasi itu adalah kepercayaan, pembuatan keputusan bersama, kejujuran, keterbukaan, mendengarkan dalam komunikasi ke atas dan perhatian pada tujuan-tujuan kinerja tinggi.
C. Dimensi Iklim Komunikasi Organisasi
Menurut model Pines, iklim kerja sebuah organisasi dapat diukur melalui empat dimensi sebagai berikut :
·         Dimensi Psikologikal, yaitu meliputi variabel seperti beban kerja, kurang otonomi, kurang pemenuhan sendiri (self-fulfilment clershif), dan kurang inovasi.
·         Dimensi Struktural, yaitu meliputi variabel seperti fisik, bunyi dan tingkat keserasian antara keperluan kerja dan struktur fisik.
·         Dimensi Sosial, yaitu meliputi aspek interaksi dengan klien (dari segi kuantitas dan ciri-ciri permasalahannya), rekan sejawat (tingkat dukungan dan kerja sama), dan penyelia-penyelia (dukungan dan imbalan).
·         Dimensi Birokratik, yaitu meliputi Undang-undang dan peraturan-peraturan konflik peranan dan kekaburan peranan.
D. Hambatan-Hambatan Komunikasi
Komunikasi tidak efektif disebabkan berbagai hambatan manusiawi dan teknis:
1. Faktor-faktor hambatan dalam diri pribadi.
Persepsi selektif, akan menolak atau salah mengartikan informasi yang tidak sesuai dengan anggapan-anggapan atau harapan-harapan yang secara emosional dibentuk sebelumnya. perbedaan individu dalam ketrampilan Komunikasi.
2. Hambatan antar pribadi
kepercayaan:karakter pokok komunikasi adalah kepercayaan. kredibilitas; kejujuran, keahlian, kemampuan, dinamisme, antuasiame. kesamaan pengirim-penerima


3. Hambatan organisasional
Status: Pada umumnya orang-orang lebih senang mengarahkan komunikasinya mereka ke individu-individu yang statusnya lebih tinggi.
Orang-orang dengan status tinggi pada umumnya lebih banyak berkomunikasi Satu dengan yang lain yang berstatus lebih rendah.
Orang denga status lebih tinggi pada umumnya lebih mendominasi pembicaraan dibanding orang-orang yang berstatus lebih rendah




BAB III
PENUTUP
Iklim Komunikasi Organisasi merupakan salah satu hal yang memegang peranan penting di dalam kehidupan suatu organisasi. Kepuasan komunikasi organisasi juga merupakan salah satu hal yang harus menjadi perhatian utama pihak organisasi, karena kepuasan komunikasi organisasi mempengaruhi perilaku orang-orang yang berada di dalam organisasi tersebut. sehingga nantinya organisasi dapat mengambil tindakan yang paling tepat untuk mengembangkan organisasi.
Dengan adanya Iklim Komunikasi dalam suatu Organisasi maka  akan mengeratkan hubungan antar karyawan dan juga yang mendukung kinerja para karyawan agar lebih produktif serta menciptakan suasana kerja yang nyaman di dalam organisasi tersebut.



Daftar Pustaka

Pagumpia, F. (2013). Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi Terhadap Produkti9vitas Kerja Karyawan Di Bank Prisma Dana Manado. Jurnal Acta Diurna. Vol.II (2). Diakses pada tanggal 01/02/2016. http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/actadiurna/article/download/1136/917.

Senin, 25 Januari 2016

Perencanaan Organisasi

Perencanaan Organisasi
PT. Milkie Ultra Pratama
Perusahaan ini bergerak dibidang barang dan jasa dengan memproduksi minuman susu kedelai siap saji. Perusahaan ini dikenal dengan produknya yang diolah langsung dari susu sapi segar dan kedelai berkualitas dan secara higienis serta alamiah dan tanpa bahan pengawet. Perusahaan ini sudah berdiri sejak tahun 2009 dan sampai saat ini merupakan salah satu produk yang sangat laku dipasaran.

Tujuan
Untuk mengenalkan kepada masyarakat  khususnya kepada mereka  yang memiliki jadwal waktu yang padat dan mudah kelelahan produk ini dapat diandalkan sebagai penambah energi dan memiliki kandungan vitamin yang tinggi sehingga cocok dikonsumsi bagi siapapun.

Visi & Misi

Visi: 
Untuk menjadikan PT.Milkie Ultra Pratama menjadi salah satu brand momer satu dan dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat.

Misi:
-          Menjadikan produk yang dihasilkan agar lebih berkualitas.
-          Meningkatkan jumlah produksi susu kedelai
-          Dapat berinovasi dengan lebih banyak varian rasa.
-          Memperkenalkan produk kepada masyarakat agar dapat diterima dan dinikmati oleh semua kalangan.


Struktur Organisasi

Minggu, 20 Desember 2015

Desain Program Pelatihan

Desain Program Pelatihan
Description
PT. Madu Alam Persada
PT. Madu Alam Persada merupakan perusahaan swasta  yang memproduksi madu alami, mulai dari budidaya lebah, pengolahan  madu hingga proses produksi madu yang sudah jadi. Perusahaan ini berdiri  di kawasan perkebunan disalah satu kota. Perusahaan ini berdiri diatas lahan seluas satu setengah hektar. Kantor utama PT. Madu ini berada di paling depan menghadap langsung ke pintu masuk. Dibelakang kantor utama terdapat ruangan yang dijadikan gudang penyimpanan madu-madu yang sudah diolah dan dijadikan juga sebagai dapur pengolahan. Di samping kanan kantor utama terdapat rumah panggung yang terbuat dari kayu yang biasa dijadikan tempat istirahat dan shalat bagi para pekerja. Sisa lahan dibelakang gudang tempat penyimpanan, dijadikan sebagai budidaya lebah dan ditanami berbagai macam pepohonan rindang selain membuat suasana menjadi lebih sejuk produk madu yang dihasilkan juga lebih bervariasi karena lebah-lebah tersebut mengonsumsi serbuk sari dari tumbuhan yang tumbuh disekitarnya sehingga menghasilkan berbagai varian dengan rasa, jenis dan memiliki khasiat yang berbeda seperti madu rambutan,madu multiflora, madu kelengkeng, madu kapuk dan masih banyak lagi. Perusahaan ini sudah beropreasi cukup lama dan cukup terkenal dengan kualitas madu yang dihasilkan. Perusahaan madu ini juga sering dijadikan tempat pelatihan untuk para peserta yang tertarik untuk membudidayakan lebah. Selain madu yang dihasilkan, perusahaan madu ini juga membuka terapi lebah dan tak jarang banyak yang datang untuk melakukan terapi.
Pekerjaan Trainer/Instruktur budidaya lebah
Instruktur budidaya lebah merupakan salah satu bidang pekerjaan yang cukup rawan, karena berhadapan langsung dengan lebah yang sedang dibudidayakan untuk menghasilkan madu yang nantinya akan dijual. Pekerjaan ini memiliki resiko yang cukup tinggi maka dari itu dibutuhkan nyali yang cukup kuat untuk berada di bidang ini.
Pelatihan budidaya lebah
A. Tujuan
Selain untuk memberikan edukasi kepada masyarakat juga  bertujuan melatih karyawan madu untuk dapat membudidayakan lebah. Jadi, karyawan madu tidak hanya terampil dalam menghitung pemasukan dan pengeluaran madu yang dijual tetapi juga mendapatkan pengalaman yang lebih luas dalam membudidayakan lebah, mengolah madu hingga memproduksi madu tersebut. Untuk itu perusahaan membuka peluang bagi siapapun  yang tertarik untuk menjadi salah satu trainee dan mendapatkan pelatihan khusus dari instruktur yang sudah berpengalaman. Tidak hanya bagi karyawan tetapi masyarakat juga bisa berpartisipasi untuk melakukan kegiatan ini.

B. Sasaran/Peserta
Sasaran/peserta dalam pelatihan ini adalah semua karyawan PT.Madu Alam Persada dan terbuka untuk umum dengan maksimal kuota 50 orang.
C. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Pelatihan ini akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal   : Sabtu/10 Januari 2016
Waktu             : 07.30-16.00 WIB
Tempat            : Buperta Cibubur
D. Materi Pelatihan dan Pembicara
Waktu
Materi
Pembicara
07.30-09.00
Sambutan-sambutan pembukaan
Pengurus,instruktur trainer dan panitia penyelenggara
09.00-10.00
Presentation (audio visual training)
Insturktur/trainer
10.00-11.30
Simulasi
Instruktur/trainer
11.30-13.00
ISHOMA (istirahat,sholat,makan)
-
13.00-15.00
Adventure Training & Team training
Instruktur/trainer
15.00-15.30
Evaluasi dari hasil pelatihan
Instruktur/trainer
15.30-16.00
Penutupan & perpisahan
Instruktur trainer dan panitia penyelenggara

E. Penutup

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman kepada seluruh karyawan PT.madu alam persada untuk mengelola sendiri produk yang dihasilkan. Serta membangun kerjasama antar tim sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja masing-masing karyawan. Selain itu masyarakat yang ikut dalam pelatihan ini juga mendapatkan edukasi langsung dari instruktur lebah dan bagaiamana cara membudidayakan sehingga menghasilkan madu yang memiliki kualitas yang baik. Sehingga dapat memberikan image yang baik bagi perusahaan mengenai madu yang di produksi.

Selasa, 08 Desember 2015

Fungsi Perencanaan & Pengorganisasian

Fungsi Perencanaan & Pengorganisasian (seleksi dan penempatan dan pengembangan)
1. Seleksi dan Penempatan
Seleksi dan penempatan merupakan fungsi dari sistem calon tenaga kerja yang dinilai dati sejauh mana mereka memiliki kirteria yang disyaratkan.
Proses
-Tahap Ià Pencarian calon tenaga kerja baik melalui media cetak ataupun elektronik.
-Tahap II
-Tahap 1à seleksi dan surat lamaran (CV)
-Tahap 2à wawancara awal
-Tahap 3à ujian, psikotes dan wawancara
-Tahap 4à penilaian akhir
-Tahap 5à pemberitahuan dan wawancara akhir
-Tahap 6à penerimaan
Penempatan adalah suatu rekomendasi atau keputusan untuk mendistribusikan calon tenaga kerja pada pekerjaan yang berbeda-beda berdasarkan suatu dugaan tentang kemungkinan dari calon tenaga kerja untuk berhasil pada pekerjan tersebut.
2. Pelatihan & Pengembangan
a. Pelatihan (training)
Pelatihan adalah proses pembelajaran jangka pendek yang menggunakkan prosedur sistematis dan terorganisasi untuk meningkatkan kinerja dan dengan tujuan tertentu.
b. Pengembangan (development)
Pengembangan adalah pelatihan jangka panjang yang sistematik dan terorganisir dengan tujuan yang umum yaitu meingkatkan kemampuan (skill) yang diperlukan untuk dimasa mendatang.
Tujuan dari adanya pelatihan dan pengembangan yaitu:
1.      Untuk meningkatkan produktivitas kerja para tenaga kerja
2.      Meningkatkan mutu produk yang dihasilkan oleh tenaga kerja.
3.      Meningkatkan perencanaan SDM
4.      Meningkatkan semangat kerja
5.      Menarik dan menahan tenaga kerja yang memiliki kompetensi yang baik.
6.      Menjaga kesehatan dan keselamatan kerja
7.      Menghindari keusangan.
8.      Menunjang pertmbuhan pribadi.
3. Prinsip atau Teori Belajar
a. Reinforcement Theoryà biasanya adanya penguatan serta konsekuensi yang diberikan seperti yang disampaikan skinner dimana pemberian stimulus akan meningkatkan kemungkinan munculnya respon. Bentuk reinforcementnya bisa berupa negatif maupun positif.
b. Theory Social Learningà teori belajar sosial yaitu proses belajar yang diperoleh melalui observasi dengan mengalami konsekuensi langsung dari proses observasi tersebut.
c. Goal Theoryà asumsi dari perilaku merupakan hasil dari intensi dan tujuan.
d. Need Theoryà teroi kebutuhan mengindetifikasi keutuhan-kebutuhan dasar.
e. Information Processingà menekankan pada proses internal ketika training mulai dari persepsi-retensi-encoding-retrieval.
4. Transfer of Training
Yaitu mengacu pada trainee dapat mengaplikasikan apa yang didapatkan dalam pelatihan secara  efektif atau kontinudalam pekerjaannya.
Tujuan utama dari transfer of training adalah;
-Generalizationà kemampuan trainee untuk mengaplikasikan hasil dari pelatihan kedalam masalah situasi kerja yang dialaminya.
-Maintenanceà poses untuk melakukan secara terus-menerus kemampuan yang diperoleh dari pelatihan tersebut.
5. Evaluasi
Tujuan evaluasi adalah:
1.      Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan program
2.      Menilai faktor yang berkontibusi terhadap proses pembelajaran dan konten pelatihan
3.      Membantu program marketing dengan pengumpulan informasi dari partisipan
4.      Identifikasi trainee yang mendapat hasil tertinggi atau terendah dari program
5.      Menentukan keuntungan dan kerugian finansial program
6.      Membandingkan keuntungan dan kerugian tarining vs nontraining
7.      Membandingkan keuntungan dan kerugian dengan program training lain
Untuk mengevaluasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
-Reaction Outcomes
-Learning or Cognitive Outcomes
-Behavior and Skill Based Outcomes
-Affective Outcomes
-Result

-Return or Investment

Senin, 16 November 2015

Kasus Kecelakaan Kerja

Crane Jatuh di Proyek, Dua Pekerja Jadi Korban
Kamis,  8 Oktober 2015  −  13:51 WIB


PONTIANAK - Dua pekerja bangunan tertimpa crane yang jatuh saat mengerjakan proyek pembangunan Rumah Sakit Universitas Tanjungpura (Untan), Kamis (8/10/2015).

Kedua korban yakni Abdurrahman Rois (operator) dan Sucipto (pengawas) mengalami luka di bagian kaki dan dagu. Keduanya pun langsung dilarikan ke instalansi gawat darurat (IGD) rumah sakit Untan untuk mendapatkan perawatan.

Dari pantauan lapangan, crane tumbang dan menghantam bangunan lantai tiga. Pada bagian crane tampak patah. Sementara anggota polisi yang datang ke tempat kejadian mengamankan satu baut crane yang patah.

Untuk mengantisipasi terulangnya kejadian serupa, polisi yang ada di lokasi kejadian langsung memasang  police line.
 

Polisi menyatakan pekerjaan baru dapat dilanjutkan, ketika semua proses penyelidikan penyebab kecelakaan kerja tersebut terungkap.

Kapolsek Pontianak Selatan, AKP Kartyana mengatakan terkait insiden tersebut, telah dilakukan pemeriksaan dan meminta keterangan dari sejumlah saksi.
 

Dimana, berdasarkan keterangan yang disampaikan ketua pengawas pekerja, Aguswanto, crane jatuh akibat salah satu baut tengah lepas sehingga menyebabkan crane tumbang.

Kartyana menjelaskan dalam kejadian tersebut, crane tumbang menghantam rangka bangunan dan menyebabkan rangka bangunan roboh. "Korban di antaranya operator crane dan pengawas besi lapangan," katanya.

Kapolsek menuturkan, kedua korban langsung dilarikan ke rumah sakit Untan untuk mendapatkan perawatan.
 

"Untuk mengetahui penyebab kecelakaan tersebut, tentu akan dilakukan penyelidikan. Apakah murni ini kecelakaan atau terjadi karena ada kelalaian manusia," terangnya.

Sementara saat dikonfirmasi, tidak ada satupun dari pihak pekerja maupun pelaksana proyek yang mau memberikan keterangan terkait insiden tersebut.

Hasil Analisis
Menurut saya penyebab dari kecelakaan ini dapat dibsebabkan dua faktor yaitu pertama murni karena kecelakaan dan yang kedua akibat kelalaian manusianya seperti yang sudah dijelaskan dari kasus diatas. Murni karena kecelakaan, dari kasus diatas juga sudah dijelaskan bahwa baut crane tersebut terlepas mungkin, salah satu faktor terlepasnya baut itu adalah karena terbawa angin kencang atau memang baut crane tersebut sudah sedikit rapuh sehingga crane tersebut jatuh menghantam rangka bangunan. Sementara faktor yang kedua adalah kecelakaan ini disebabkan karena adanya kelalaian manusianya yang mengakibatkan baut crane tersebut terlepas kemudian menghantam rangka bangunan. Karena pada dasarnya baut crane itu sendiri biasanya dirakit terlebih dulu oleh para pekerja sebelum digunakan, otomatis jika ada salah satu baut yang terlepas bisa jadi karena, ketika baut itu dipasang kurang kencang ketika digunakan bautnya akan terlepas dari tempatnya.
Intervensi
Untuk itu hal-hal kecil semacam ini dapat menimbulkan dampak yang cukup besar, ketelitian harus diperlukan dalam hal ini. Hal-hal yang yang dapat dicegah agar kejadian serupa tidak terjadi lagi adalah kerjasama antara pekerja bangunan dengan pengawas keselamatan pekerja untuk memastikan apakah crane sudah benar-benar layak untuk digunakan atau tidak. Selain itu pihak kontraktor juga berperan dalam hal ini dalam menyiapkan alat-alat yang mendukung keselamatan para pekerjanya. Karena bisa dibilang pekerjaan bangunan seperti ini cukup rawan jika pihak kontraktor tidak memenuhi standar keselamatan kerja bisa jadi akan banyak korban lagi kedepannya. Dan untuk para pekerja agar lebih teliti lagi dalam memasang alat-alat berat sebelum digunakan karena jika salah sedikit saja mereka juga yang menjadi korbannya.


Sumber: http://daerah.sindonews.com/read/1051395/174/crane-jatuh-di-proyek-dua-pekerja-jadi-korban-1444287081